"Menikah
adalah sunahku. Barangsiapa enggan melaksanakan sunahku, ia bukan
termasuk golonganku. Menikahlah, karena sesungguhnya aku bangga dengan
banyaknya jumlah kalian di hadapan seluruh umat. Baransiapa memiliki
kemampuan untuk menikah, menikahlah! Dan , barangsiapa belum mampu,
hendaklah berpuasa, karena puasa adalah perisai baginya dari berbagai
syahwat." (HR.Ibnu Majah)
Menikah
adalah menapak di jalan sunah. Karena kita mengikuti sunah Rasulullaah,
kita akan mendapatkan pengalaman-pengalaman luar biasa. Dan karena kita
mengikuti sunah manusia yang paling ajaib cintanya, kita akan menemukan
surga sebelum surga. Baiti Jannati, rumahku syurgaku. Mencintai pasangan halal kita adalah kebahagiaan yang tiada tara.
Kalau
kita ikuti sunah Rasulullaah, cinta kita akan menjelma pengorbanan yang
indah. Coba liat deh suami-istri di sekeliling kita. Seorang suami yang
tatapannya selalu menghangatkan hati sang istri, suka rela memayungi
bidadarinya itu, membawakan tasnya, membukakan pintu mobil atau
memakaikan helm untuknya.
Kita mungkin tersenyum melihat foto di atas, sebuah pemandangan indah yang terekam kamera seorang journalis di Yaman. Dalam sekejap, ramailah negeri itu. "Cinta memang indah, selalu indah," kata orang-orang.
Lihatlah sekali lagi. Sang suami menatap penuh cinta kepada istrinya. Senyumnya memberikan ketenangan, tangannya menggenggam hangat. Di tengah rintik gerimis, sang istri menenteng sepatunya yang rusak sambil memakai sepatu suaminya yang sedikit kebesaran. Sang suami? Jangankan berjalan tanpa alas kaki, menerjang badai pun akan ia tempuh demi istrinya. Kita tersenyum membayangkan betapa saat itu syurga seakan telah membukakan pintu untuk mereka. Keduanya pasti bersyukur telah menjadi bagian dari keindahan hidup pasangannya.
Cinta memang sanggup mengubah kita menjadi orang yang gemar melakukan pengorbanan indah. Empat belas abad yang lalu, Rasulullaah mencontohkan hal ini. Di tempat bernama Saddush Shahba, dalam perjalanan menuju Madinah, seperti yang bisa kita simak dalam hadist Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullaah yang baru menikah dengan Shafiyyah berboncengan unta dengan istrinya itu. Sebelum naik ke punggung tunggangannya , beliau dengan penuh perhatian menyelimuti bidadarinya itu dengan sehelai kain. Beliau lalu mempersilahkan sang istri naik terlebih dulu. Kemudian, manusia mulia itu merendah di samping unta sambil memberikan lututnya sebagai pijakan bagi sang istri.
Kita mungkin tersenyum melihat foto di atas, sebuah pemandangan indah yang terekam kamera seorang journalis di Yaman. Dalam sekejap, ramailah negeri itu. "Cinta memang indah, selalu indah," kata orang-orang.
Lihatlah sekali lagi. Sang suami menatap penuh cinta kepada istrinya. Senyumnya memberikan ketenangan, tangannya menggenggam hangat. Di tengah rintik gerimis, sang istri menenteng sepatunya yang rusak sambil memakai sepatu suaminya yang sedikit kebesaran. Sang suami? Jangankan berjalan tanpa alas kaki, menerjang badai pun akan ia tempuh demi istrinya. Kita tersenyum membayangkan betapa saat itu syurga seakan telah membukakan pintu untuk mereka. Keduanya pasti bersyukur telah menjadi bagian dari keindahan hidup pasangannya.
Cinta memang sanggup mengubah kita menjadi orang yang gemar melakukan pengorbanan indah. Empat belas abad yang lalu, Rasulullaah mencontohkan hal ini. Di tempat bernama Saddush Shahba, dalam perjalanan menuju Madinah, seperti yang bisa kita simak dalam hadist Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullaah yang baru menikah dengan Shafiyyah berboncengan unta dengan istrinya itu. Sebelum naik ke punggung tunggangannya , beliau dengan penuh perhatian menyelimuti bidadarinya itu dengan sehelai kain. Beliau lalu mempersilahkan sang istri naik terlebih dulu. Kemudian, manusia mulia itu merendah di samping unta sambil memberikan lututnya sebagai pijakan bagi sang istri.
Tunggu kelanjutannya ;-)
Promotion


